Rangkaian Acara Maulid Akbar Kanzus Shalawat

08 Januari 2017
Author :  

Habib bidin mengumandangkan qasidah dengan diiringi rebana dan diikuti para jama'ah

Majelis Azzahir – Hal ini berangkat dari wujud kecintaan Habib Luthfi bin Yahya kepada para leluhur. Dalam rangkaian Maulid Akbar Kanzus Shalawat terdapat acara nikah massal bagi pasangan tidak mampu, sebagai wujud kecintaan Habib Luthfi kepada para jamaah maulid. Untuk kegiatan ini, Habib Luthfi bin Yahya ingin menghidupkan sunnah rasul (menikah) sebanyak-banyaknya; “Daripada nikah banyak-banyak, lebih baik menikahkan banyak orang.” Begitu tutur Habib Luthfi. 

Maksud Habib Luthfi, harapan nikah massal tersebut tidak lain hanya untuk mencari pahala (sunnah), dan syukur Alhamdulillah jika pasangan yang dinikahkan nantinya dikaruniai keturunan yang sholeh, bahkan menjadi kekasih Allah (auliya`). Jika melihat ke belakang, awal dakwah Islam pada mulanya dimulai dari pasangan suami-istri (sebagai contoh: Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan Sayyidah Khadijah). Dari sini diharapkan pembangunan bangsa dapat dimulai dari keluarga terlebih dahulu.

Masih dalam rangkaian Maulid Akbar tersebut adalah Pawai Panjang Jimat dan Merah Putih. Pawai tersebut meniru tradisi Kesultanan Cirebon Hadiningrat dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Jika di Cirebon kata “jimat” berarti benda-benda pusaka Kanjeng Sunan Gunung Jati, maka di Maulid Akbar Kanzus Shalawat kata “jimat” berarti Al-Quran. Habib Luthfi kembali mengingatkan kepada jamaah bahwa “jimat” utama umat muslim di dunia ini adalah Al-Quran. Sedangkan Merah Putih (yang diikutsertakan dalam pawai) adalah symbol cinta tanah air agar selalu melekat di dada, setelah Al-Quran menjadi pusaka maka Merah Putih akan menjadi “jimat” kedua setelahnya.

Kemudian khataman Al-Quran di Makam Habib Hasyim bin Yahya Sapuro. Habib Hasyim adalah kakek Habib Luthfi yang membawa hijrah keluarganya dari Cirebon ke Pekalongan. Semasa hidup, Habib Hasyim pernah berpesan untuk tidak dihauli setelah wafat, dan akhirnya khataman Al-Quran di Maulid Akbar Kanzus Shalawat dijadikan momen untuk menghormati Habib Hasyim.

Selain sebagai mursyid thariqah, Habib Luthfi adalah musisi. Tidak ingin melupakan tradisi orang-orang Arab yang jika mempunyai hajatan akan mengadakan acara musik, maka Habib Luthfi menggelar gambus/samer pada pungkasan acara Maulid Akbar Kanzus Shalawat. Bagi Habib Luthfi, music adalah hal yang universal. Sama universalnya dengan suara-suara alam seperti rintik hujan dan bunyi kicauan burung yang masing-masing mengandung harmoni dan irama. Untuk acara samer/gambus di Maulid Akbar dipimpin oleh menantu Habib Luthfi, yaitu Habib Ali Zainal Abidin bin Segaf bin Al-Quthb Abu Bakar Assegaf Gresik, yang tentu saja lantunan gambus beliau kental bernuansa sufi.

Bagi masyarakat, Maulid Kanzus Shalawat adalah magnet. Sebagian meyakini Maulid Kanzus Shalawat adalah salah satu karomah dari Habib Luthfi. Dapat dilihat berapa ratusan bus yang berasal dari luar kota mendatangi Pekalongan pada waktu Maulid, dan semuanya berniat mencari berkah dari acara tersebut.

Rangkaian Maulid Akbar Kanzus Shalawat terdiri dari beberapa sesi; di antaranya adalah pembacaan kasidah-kasidah pujian kepada Kanjeng Nabi SAW, dengan suara vokal dan rebana yang memukau. Disusul pembacaan shalawat Dala`il Al-Khairat yang sudah menjadi wiridan favorit para kiai dan santri di Pekalongan. Setelah dzuhur tiba, shalat jamaah didirikan bersama para jamaah yang mendatangi maulis Kanzus Shalawat, sebagai penanda bahwa acara puncak segera tiba. Pada masa tersebut, Habib Luthfi akan menghadiri majlis mauled sebagai pemimpin acara Maulid Akbar. Pembacaan tawassul pun dilantunkan Habib Luthfi, dari mulai Rasulullah SAW, keluarga Nabi, para sahabat, para auliya` dari mana saja termasuk tanah Jawa, baik perempuan maupun laki-laki, termasuk di dalamnya adalah para pahlawan Indonesia.

Dulu waktu saya dan kakek (alm. HM. Yusuf Amuntai) hadir di Maulid Kanzus Sholawat Maret 2011, Habib Luthfi saat di tengah pembacaan tawassul bicara kepada jamaah: "Saat tawassulan seperti ini jangan cuma diam, justru harus banyak berdoa minimal dua doanya. Satu minta dikuatkan imannya, dua minta agar Indonesia dijauhkan dari marabahaya dan bencana." Ternyata ucapan Habib Luthfi ini terbukti. Beberapa hari kemudian, tepatnya 11 Maret 2011, Jepang dilanda gempa bumi dahsyat disertai Tsunami besar yang menelan banyak korban jiwa.

Dan pernah juga saat saya pertama kali hadir di Maulid Kanzus Sholawat setelah pembacaan tawassul, Habib Luthfi bicara kepada para jamaah dengan suara lantang: "Rasulullah Hadiiir..." Kemudian banyak jamaah yang menangis haru dan langsung berucap "Aamiin aamiin". (Disarikan dari tulisan Shodiqur Rifqi)

1 komentar 189 Views
Azzahir Pers

Seputar Informasi Berita Majelis Ta'lim Wal Maulid Majelis Azzahir

(Habib Bidin Segaf Assegaf) dan (Habib Achmad Al-Habsyi).

Leave your comment

Comment

  • Rudi Gambas Rudi Gambas Minggu, 08 Januari 2017

    Ya Salam